Manyung atau Patin?
Kira - kira 2 tahun yang lalu ane pergi ke Manyar, Gresik untuk mencoba masakan kepala ikan Manyung di warung Sembilang. Ane yang saat itu baru mau mencoba masakan ini tidak bisa membedakan bentuk dan rasa dari ikan Manyung.
Saat makan ya enak saja, tapi menjadi tidak enak saat driver Grab mengucapkan pertanyaan ini, "mas yakin yang mas makan tadi kepala ikan Manyung?".
Jujurly ane tidak bisa menjawab hal ini tapi ane denial, alasan ego yang paling utama. Sedangkan si driver tetap bersikukuh bahwa sebenarnya yang dijual di warung itu adalah ikan Patin bukan Manyung. Sama - sama mempertahankan asumsi sampai kemudian sebulan yang lalu ane punya kesempatan untuk mempir kembali.
Saat makanan dihidangkan terngiang kembali pertanyaan dari driver Grab. "mas yakin yang mas makan tadi kepala ikan Manyung?"
Ane kemudian coba untuk memperhatikan dengan lebih detail, semakin ane lihat dan rasakan semakin ane tidak yakin kalo ini adalah ikan Manyung. Kenapa? karena bentuk kepalanya lebih bulat beda dengan Manyung yang pipih (meski dibelah dua). Kemudian jumlah daging di kepalanya banyak banget beda dengan Manyung yang biasanya ane makan, selain itu dagingnya terasa lembut. Biasanya daging Manyung berserat dan sedikit keras/kenyal. Kali ini juga agak amis ikan.
Meski di luar dagingnya banyak, namun ane menemukan insang yang besar di dalam. Tentu saja bagian ini agak pahit saat dimakan. Selama ini ane belum pernah makan masakan Manyung yang insangnya sebesar ini. Bentuk dan teksturnya berbeda dengan ikan Manyung yang pernah ane makan di Tuban.

Keyakinan ane menipis, meski tidak 100% yakin kalo ini adalah ikan Patin. Sepertinya ane akan mengurangi makan masakan Manyung disini.